Rabu, 15 Agustus 2012

Satukanlah Hati Kami "Sebuah Penggalan Kisah Yang Tak Akan Usang"


dari sebuah kamar terdengar suara musik mp3 dari sebuah komputer, sebuah lagu yang sangat lama, sebuah tembang kenangan karya Pance Pondag... dengan judul satukanlah hati kami...

di sini setahun yang lalu menyatu hatiku dan hatimu
tanpa janji-janji tanpa kemesraan..kau diam aku pun membisu
kau pergi dengan cita2ke kota yang jauh disana pasrah sudah hati
hanya doa restu kutunggu dengan sabar hati
siang malam hanya doa yang kupanjatkan..
Tuhan lindungilah dia yang kusayangi
satukanlah hati kami berdua selamanya selamanya...

lagu ini mengingatkan saya dengan seorang sahabat saya Alek Arisona yang ketika itu sedang reunifikasi dengan saya setelah berpisah selama 3 tahun. Di kontrakan jalan gadung 120.. tiap pagi kami sebelum berangkat ke kampus kami menyanyikan lagu ini berdua sambil ngopi2 dan sedikit rokok.. alangkah indahnya waktu itu, masih sangat jelas ku ingat perkataan alek kalau lagu ini cocok buat seseorang yang waktu itu sedang mengisi hatiku.. hehehe (wah mulai gambleh kiy)... waktu itu saya memang sudah lulus dokter hewan dan sedang menunggu panggilan kerja untuk ditempatkan di kota makassar.. dan sebentar lagi berpisah dengannya.

kenangan yang pahit kadang selalu indah untuk dikenang saat ini.. kenangan bersama alek di kontrakan, kenangan bersama alek di warung mbok galak, kenangan mabuk bersama dan kenangan bersama alek di kantin kampus.. semua akan jadi cerita yang indah dan sayang untuk dilupakan.... sebuah cita2 masih tersisa... ya sebuah gedung pengganti kandang semut yang berlantai 30...

thanks brother... terlalu banyak kenangan indah bersamamu


"PANTANG SURUT SEBELUM BERSUJUD, PANTANG KEMBALI SEBELUM TERCAPAI PUNCAK TERTINGGI"


http://www.facebook.com/notes/john-lemon/satukanlah-hati-kami-sebuah-penggalan-kisah-yang-tak-kan-usang/121020117954263

Sabtu, 28 April 2012

Menuju Sebuah Titik

dan aku sudah melampaui batas2 itu...
batas antara hidup dan mati..
di ketinggian yang terjal aku terus berjalan
membawa beban yang tak pernah susut..
sejenak kusandarkan tubuh lelahku di bawah edelweis
memandandang sekitar yang kian menjadi suram dan samar
dingin yang mendera diantara kesunyian
..tapi aku harus segera beranjak meninggalkannya
menuju sebuah titik yang pernah aku cita2kan...

di kegelapan ini aku terus berjalan...
menyusuri setapak yang licin karena hujan tadi sore
bau rerumputan menyeruak diantara kaki2 yang berjalan
menyengat dan menambah sahdu suasana malam
sejenak aku menahan langkahku...
memandang keatas mencoba mencari sebuah bintang
tapi ternyata langit masih saja mendung...
dan aku harus segera bergegas menuju sebuah titik yang kutuju

sampailah aku pada sebuah sabana yang terhampar luas
kabut tipis turun di atas rerumputan liar..
dengan sisa tenaga kudirikan sebuah bivak
tempat beristirahat mengarungi malam yang panjang
nyanyian angin, suara serangga malam sebuah harmoni yang indah
dan aku tak sampai hati mengusiknya
dan aku tertidur, tubuhku telah dikalahkan malam
terlelap sejenak... untuk menuju sebuah titik yang akan dituju...

Makassar, 28 April 2012
pukul 10.25 wita